A.
PENDAHULUAN
Anak-anak
merupakan tunas generasi muda mendatang yang menjadi tulang punggung bangsa dan
pembangunan umat. Anak-anak adalah anugrah terindah dan sekaligus amanat Allah
yang wajib dijaga, dididik, diayumi, dicintai, dan diberikan kasih
sayang,tentunya itu sebagian besar dilakukan oleh orang tua didalam sebuah
keluarga.
Keluarga
adalah tempat naungan yang berisi ayah, ibu, dan anak yang mana didalam
keluarga terdapat adanya kasih sayang, pengertian, perhatian, dan keperdulian
dengan yang lainnya. Ayah dan ibu ( orang tua ) selalu mempengaruhi anaknya
melalui interaksi langsung dengan keluarga maupun masyarakat. Selama
perkembangan anak, tokoh anak itu umumnya lebih memberikan semangat kepada
anaknya supaya bisa hidup mandiri, membiarkan anaknya mengenal lingkungan yang
luas. Sikap ini berbeda dengan sikap ibu, baik di dalam rumah maupun diluar
rumah. Sikap ibu di dalam rumah, memberikan perlindungan kepada anaknya,
memberikan kenyamanan, memberikan kesejahteraan, memberikan kasih sayang,
melakukan pekerjaan rumah mulai dari hal terkecil sampai yang terbesar,semua
itu dilakukan dengan ikhlas. Sedangkan sikap ibu di luar rumah itu sebagai
seorang wanita yang tangguh, yang bertanggung jawab atas perilaku anaknya dan
akhlak yang diperbuat oleh anaknya. Kita sadari bersama bahwa keluarga adalah
fondasi bangunan umat. Keluarga dapat menentukan bagaimana masa depan suatu
umat dan bangsa. Keluarga pulalah yang menjadi ujung tombak dalam perbaikan dan
pendidikan masyarakat.
Lingkungan
keluarga adalah tempat pendidikan pertama bagi seseorang setelah dilahirkan,
selain sekolah, lingkungan sekitar, serta masyarakat. Dalam teori nativisme,
perkembangan manusia itu akan ditentukan oleh fakto-faktor natives,
yaitu faktor keturunan yang dibawa oleh individu pada waktu ia dilahirkan.
Manusia dituntut untuk mampu mengembangkan dan menyesuaikan diri terhadap
masyarakat. Tetapi kenyataan yang sering dijumpai adalah keadaan pribadi yang
kurang berkembang dan rapuh, kesosialan yang panas, kesusilaan yang rendah,
keimanan serta ketakwaan yang dangkal.
Namun,
ketika (orang tua) ayah atau ibu meninggal hal itu dapat mempengaruhi
psikologis perkembangan anak. Didalam perkembangan anak mereka mengalami
goncangan moral yang biasanya mereka mendapatkan kasih sayang, perlindungan,
maupun materi semuanya sudah tidak dia rasakan lagi. Karena semua itu hanya dia
dapatkan didalam keluarga atau orang tua. Perkembangan psikologis anak disaat
tidak ada orang tua itu dia merasa hidupnya itu tidak ada gunanya lagi, dia
selalu melakukan hal-hal yang bisa membuat dirinya senang walaupun itu bisa
merusak dirinya sendiri, secara fisik dia seperti orang yang stress.
Namun, pada
masyarakat menggerakan suatu lembaga yang diatas namakan panti asuhan yang mana
dapat menampung puluhan bahkan ratusan anak yang mengalami goncangan psikis
baik anak tersebut kehilangan ibu yang disebut piatu, sedangkan anak yang
kehilangan ayah disebut yatim, dan anak yang kehilangan ayah maupun ibu yang
disebut yatim piatu. Kemudian adanya anak-anak jalanan atau anak gelandangan
bahkan mereka yang tidak mempunyai keluarga mereka juga dirawat oleh panti
asuhan agar mereka mendapatkan perlindungan yang layak, kehidupan yang memadai
bahkan psikologisnya yang baik tidak mengalami kesedihan akibat kehidupan
sebelumnya yang tidak layak. Didalam suatu lembaga panti asuhan tersebut
bertujuan memberikan kenyaman, perlindungan, dan kelayakan hidup baik dari segi
materi maupun pendidikan yang pernah dia dapatkan dari orang tuanya. Dengan
dilengapi adanya sarana yang diperlukan oleh anak-anak panti asuhan tersebut
sehingga dapat membangun kekreativan mereka didalam menghasilkan sesuatu yang
berguna. Dengan demikian goncangan psikis yang terjadi pada anak tersebut dapat
hilang secara perlahan-lahan dengan adanya kegiatan-kegiatan yang bermanfaat
tersebut.
B. LATAR
BELAKANG
1.Sosial
Mereka ada, terlahir di dunia, namun ditolak keberadaannya. Mereka bahkan
tidak mengerti mengapa bukan kehangatan yg penuh cinta yg memeluk mereka.
Kesepian & kesunyian menjadi bagian dari hidup mereka.
Perilaku
anak-anak tersebut pada awal masuk panti asuhan sangat terganggu mentalnya.
Karena faktor yang berbeda seperti halnya karena kesedihannya ditinggal oleh orang
tua yang di sayanginya ataupun bahkan ada yang bersifat berandal yang masih
melekat akibat pengaruh lingkungan yang buruk akibat mereka sering berkehidupan
di jalanan. Namun, setelah mereka berkehidupan di panti asuhan akhlak mereka
sudah baik. Karena pengaruh dari pengasuh panti asuhan yang penyayang,
seakan-akan mereka dianggap seperti halnya anak kandungnya. Begitu pula anak
panti asuhan yang satu dengan yang lainnya yang saling menyayangi seakan
keluarganya sendiri. Mereka saling bertukar pikiran apa yang sedang dialaminya.
Sehingga psikologis pemikiran meraka dapat berkembang lagi karena mereka saling
menyayangi dan mengasihi.
Kemudian
dari konsep masyarakat yang ada mengenai proses belajar anak dalam
bermasyarakat yaitu interaksi dan sosialisasi. Proses interaksi adalah proses
anak itu mengenal lingkungan masyarakat sedangkan proses sosialisasi adalah
proses sosialisasi yang bersangkutan dengan proses belajar kebudayaan dalam
hubungan dengan sistem sosial. Dalam proses itu seorang individu dari masa
anak-anak hingga masa tuanya belajar pola-pola tindakan dalam interaksi dengan
segala macam individu sekelilingnya yang menduduki beraneka macam peran sosial
yang mungkin ada dalam kehidupan sehari-hari.1
Kemudian
dalam proses evolusi sosial budaya yang dianalisa secara detail akan membuka
mata anak dalam melihat untuk berbagi macam proses perubahan yang terjadi dalam
dinamika kehidupan sehari-hari dalam tiap masyarakat. Proses-proses evolusi
sosial budaya yang dipandang seolah-olah dari jauh hanya akan menampakkan
kepada perubahan-perubahan besar yang terjadi dalam jangka waktu yang panjang.
Proses-proses disebut dalam ilmu antropologi, proses-proses menentukan arah,
atau directional processes.2
Dari semua
itu sehingga anak-anak panti asuhan dapat membentuk jati dirinya dalam
masyarakat yang santun, yang dapat gotong royong dalam menyelesaikan pekerjaan
satu sama lain meskipun tidak pekerjaannya yang menimbulkan sikap saling
membantu dalam masyarakat. Dari situlah pengaruh masyarakat dalam pembentukan
jati diri sangat besar. Karena lingkungan panti asuhan yang sangat santun dapat
mempengaruhi anak-anak panti asuhan dan masyarakat panti asuhan yang sangat
berakhlak mulia karena masyarakat tersebut sangat mendukung adanya panti
asuhan. Saling menyayangi dan saling mengasihi sehingga anak-anak berpengaruh
menjadi anak-anak yang bersifat sosial, saling menyayangi dan mengasihi.
Tali ikatan
yang terbaik antara satu sama lain dalam suatu masyarakat, adalah ikatan yang
dibangun atas dasar perasaan dan cinta yang sesungguhnya. Keharmonisan yang ada
antara dua jiwa akan membuat mereka berpadu dalam dunia cinta dan persatuan.
Dari sinilah dasar kebahagiaan yang kekal itu tumbuh. Agar kebahagiaan ini
tetap terpelihara, masing-masing orang harus menyingkirkan berbagai
perselisihan dan berkompromi tentang berbagai persoalan, mengenai apa yang
mesti mereka tolak dengan sepantasnya. Persahabatan yang paling bernilai adalah
persahabatan tidak dibangun atas dasar kepentingan pribadi tetapi di atas
kepentingan bersama dengan cinta, persaudaraan, dan mampu memuaskan jiwa
manusia yang membutuhkan cinta dan kesenangan.3
2.Agama
Agama
tersebut di bagi menjadi dua:
- Formal: Anak-anak di panti asuhan Al-Jannah melaksanakan pendidikan formalnya di dalam madrasah atau sekolah yang terdapat pelajaran umum. Mereka tidak hanya melakukan pendidikan tentang kehidupan akhirat saja namun dia juga melekukan pembelajaran tentang ilmiah juga. Di dalam pendidikan tersebut yang dapat diambil oleh anak-anak dapat mengatur perilaku atau tatanan moral (akhlak) anak, sehingga dapat terhindar dari hal-hal yang berbahaya dan dilarang oleh agama.
Pendidikan
formal sangat dibutuhkan oleh anak karena pendidikan berpengaruh terhadap
kualitas serta kuantitas usaha belajar anak, dan bahwa seluruh staf pendidik
dapat menyumbang pada perkembangan kepribadian masing-masing anak didiknya.
Oleh karena itu, pelayanan pendidikan formal tersebar secara luas, dengan
melibatkan tenaga pendidik yang professional dan handal. Tenaga-tenaga pengajar
yang secara rutin berhubungan dengan para siswa, memegang peran kunci dalam
proses pendidikan formal. Mereka dapat menyisipkan aneka unsur pendidikan dalam
pelajaran, dapat memberikan bimbingan kelompok, bahkan dapat menyelenggarakan
wawancara konseling. Hal itu dilakukan agar pelaksanaan pendidikan formal dapat
berjalan kondusif dan lancar.4
- Informal:Di dalam panti asuhan mangadakan pengajian, baik mengaji Al-Qur’an maupun kitab mupun yang lainnya. Kemudian di dalam panti asuhan tersebut juga diadakan kegiatan rebana yang dilaksanakan setiap malam Senin. Agar dapat selalu mengingat Sunnah Rasulullah, karena itu dilakukan pada saat hari kelahiran Rasulullah. Anak-anak panti asuhan juga diwajibkan shalat tahajjud. Karena shalat tahajud untuk kepentingan mereka sendiri agar diberi kemudahan oleh Allah SWT dalam melakukan sesuatu yang di Ridhai-Nya.
Hal itu dilakukan
oleh anak-anak panti asuhan karena pengasuh panti asuhan tersebut selalu
memberi contoh baik bagi anak-anak panti asuhan. Seperti halnya pada saat
beliau masih muda meskipun beliau melaksanakan pendidikan formal namun beliau
juga melaksanakan pendidikan agama yang bersifat informal. Beliau menceritakan
kepada anak-anak panti asuhan bahwa sejak muda apa yang dilakukan anak-anak
panti asuhan tersebut juga dilakukannya.
Dalam latar
belakang adanya agama tersebut anak-anak panti asuhan dan ditekankan harus
memiliki empat komponen unsur agama:
a.Emosi
keagamaan disini berarti yang menyebabkan manusia menjadi religius.
b.Sistem
kepercayaan disini berarti mengandung keyakinan serta bayangan-bayangan manusia
tentang sifat-sifat Allah serta tentang wujud dari alam gaib.
c.Sistem
upacara religius disini berarti yang bertujuan mencari hubungan seseorang
tersebut dengan Allah.
d.Kelompok-kelompok
religius atau kesatuan-kesatuan sosial yang menganut sistem kepercayaan dan
yang melakukan upacara-upacara religius.5
3.Budaya
Menurut E.B
Taylor budaya merupakan keseluruhan yang kompleks yang mencakup pengetahuan,
kepercayaan, kesenian, moral, hukum dan adat istiadat. Budaya juga merupakan
kemampuan serta kebiasaan yang didapat oleh masyarakat sebagai anggota
masyarakat. Sedangkan budaya menurut Ki Hadjar Dewantara merupakan buah budi
manusia dalam hidup bermasyarakat.6
Jadi, dapat
diketahui bahwa budaya tersebut merupakan kebiasaan. Adapun kebiasaan dalam
panti asuhan adalah diwajibkanya dan dilaksanakannya sholat tahajud, dan sholat
tahajud tersebut harus dilakukan setiap malam hari bagi semua anak-anak panti
asuhan tanpa terkecuali. Karena sholat tahajud tersebut dapat bermanfaat untuk
mendekatkan diri kepada Allah agar apa yang dia inginkan dapat dikabulkan oleh
Allah SWT. Kemudian kebiasaan kerja bakti dalam panti asuhan dilaksanakan
setiap Hari Minggu. Wajib dilakukan untuk seluruh anak-anak agar cermin
kebersihan dapat diterapkan dalam kehidupannya sehari-hari. Karena kebersihan
itu sebagian dari iman. Lalu kebiasaan anak-anak panti asuhan dengan
diadakannya ziarah kubur di makam dermawan panti asuhan dan makam para wali di
sekitar lingkungan panti asuhan tersebut dilakuan setiap Hari Kamis sore,itu
dilakukan agar anak-anak panti asuhan dapat selalu mengingat akan adanya
kematian. Agar mereka selalu mengingat bahwa kehidupan dunia tidak akan
selamanya kekal namun juga akan berakhir, dan agar mereka selalu mengingat akan
Kebesaran Allah SWT.
4.Keluarga
Keluarga
merupakan fondasi bangunan anak, dan juga keluaraga merupakan pendidikan
pertama yang diketahui oleh anak. Keluarga dapat menentukan bagaimana masa
depan suatu umat dan bangsa. Keluargalah yang menjadi ujung tombak dalam
perbaikan dan pendidikan. Karena didalam keluarga terdapat orang tua yang
selalu memberikan kasih sayang, pengertian dan perhatian kepada anak-anak nya.
Dan jika
anak anak-anak tersebut sudah tidak mempunyai orang tua mereka sangat
kehilangan sekali dan faktor psikisnya sangat terpukul. Dan mental maupun fisik
mereka sangat terpengaruh dan dapat menjadikan depresi yang berat jika selau
difikirkan karena mereka tidak ikhlas. Karena terjadi itu maka anak tersebut
akan menimbulkan masalah yang dihadapinya. Seperti halnya tentang pendidikan,
dia sudah tidak mendapatkan lagi pendidikan yang layak karena faktor ekonomi
yang tidak memadai.
Jika itu
terjadi pada anak-anak maka dibangunlan panti asuhan. Panti asuhan merupakan
alternativ bagi anak-anak yang kurang mampu dan anak-anak yang tidak mempunyai
keluarga. Disinilah panti asuhan dapat menjadi pengganti keluarga yang semula
mereka miliki. Panti asuhan tersebut sangat nyaman dan bermanfaat bagi
anak-anak tersebut, karena untuk membangun kembali semangat hidup mereka yang
semula pudar menjadi bangkit kembali karena mereka mempunyai keluarga baru
seperti halnya orang tuanya dulu yang selalu memberikan kasih sayang kepadanya.
5.Tempat
Tinggal
Panti asuhan
Al-Jannah adalah salah satu dari sekian banyak panti asuhan. Dinamakan
Al-Jannah dikarenakan atas prakarsa dari istri pendirinya (Bapak Bisri) yaitu
Ibu Jannati.
Dimulai
dengan hanya beberapa anak, panti asuhan “Al-Jannah” mulai berdiri langkah demi
langkah, setapak demi setapak, panti asuhan mulai merangkak, halangan dan
rintangan datang silih berganti tiada henti, namun berkat ketabahan dan
keuletan pendiri dan pengurus, panti asuhan tetap berjalan walaupun tanpa
ditunjang oleh dana yang memadai dan tempat yang kurang memadai yang lokasinya
semula barada didekat Taman Lele dekat masjid kemudian pindah pada tahun 1992
ke Kelurahan Tugu Rejo tepatnya berada di Jalan Tapak nomor 53 Rt 04/Rw 03
Kelurahan Tugu Rejo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang.
Hari terus
berjalan, pengurus terus berjuang untuk memajukan panti asuhan dan memberikan
kesejahteraan kepada anak-anak asuhnya, Alhamdulillah berkat tekad dan niat
yang baik dari para pengurus dan pendiri, akhirnya perjuangan yang selama ini
dilakukan membuahkan hasil yang menggembirakan, terbukti dengan datangnya
simpatisan atau dermawan yang memberikan bantuan untuk melebelkan panti asuhan
ini dengan memberikan dana akta notaris, akhirnya pada tahun 2002 panti asuhan Al-Jannah
telah berbadan hukum. Sampai saat ini panti asuhan terus maju pesat dengan
ditunjang pendidikan dan fasilitas yang cukup memadai.
C. Panti
Asuhan Adalah Surga Bagi Anak-anak Yatim
a. Kondisi
Umum Anak
Panti asuhan
ini merupakan panti asuhan milik perseorangan yang berusaha untuk menjalankan
ibadah agama dengan menyatuni anak-anak fakir miskin dan yatim piatu. Keinginan
mulia ini akhirnya terwujud dengan mendirikan Panti asuhan Al jannah.
Penelitian ini mengambil 15 responden anak yang berasal dari berbagai wilayah
khususnya Kota Semarang sebanyak 8 anak (53,33%), Kota Pati ada 1 anak (6,677%)
dan sisanya sebanyak 6 anak (40%) berasal dari Jawa selain Semarang dan Pati.
Lama tinggal anak-anak ini di Panti Asuhan Al Jannah berkisar antara 1 – 4
tahun, saat ini ada yang sedang menempuh pendidikan setingkat SMP dan SMA.
Keinginan untuk dapat melanjutkan sekolah menjadi alasan terbesar anak-anak
untuk tingga di panti asuhan. Anak yang telah tinggal selama 1 tahun sebanyak 8
anak (53,33%), lama tinggal 2 tahun ada 5 anak (33,33%) dan lama tinggal 4
tahun ada 2 anak (13,33%). Untuk kepemilikan akte kelahiran, dari 15 responden
ada 12 anak (80%) yang memiliki, 1 anak (6,67%) tidak memiliki dan 2 anak
(13,33%) lainnya menjawab tidak tahu. Artinya, pemenuhan kebutuhan hak untuk
anak Indonesia telah terpenuhi karena sebagian besar telah memilik akte
kelahiran. Untuk memenuhi kebutuhan akte kelahiran bagi yang belum membutuhkan
perhatian dari pihak panti asuhan untuk mengurusnya, karena sangat penting
untuk masa depan anak nantinya. Anak-anak yang tinggal di panti asuhan ini pada
saat kedatangannya tidak semua didampingi oleh orang tuanya. Anak yang datang
ke panti asuhan ini memiliki alasan yang cukup beragam. Bagi yang mengalami
kesulitan ekonomi, pilihan untuk datang ke panti asuhan ini tepat karena setiap
anak mendapatkan uang saku dari panti asuhan ini. Kehidupan di panti asuhan
cukup menyenangkan bagi anak-anak karena mereka mendapatkan banyak teman dan
didukung dengan pengurus yang baik serta ramah meskipun kadangkala ada teman
yang memusuhinya. Hanya ada 1 anak yang menjawab bahwa kehidupan panti
kadang-kadang menyenangkan, namun karena banyaknya aturan sehingga tidak
merasakan kebebasan. Kondisi lingkungan di panti asuhan dirasakan cukup membuat
nyaman untuk ditinggali. Berdasarkan hasil observasi, bangunan di panti asuhan
ini cukup baik dan membuat anak merasa betah untuk tinggal cukup lama.
Lingkungan yang nyaman akan semakin menambah keceriaan anak ketika didukung
dengan fasilitas yang memadai dan layak untuk digunakan. Adapun fasilitas yang
ada di panti asuhan ini dan segi kelayakannya antara lain: Ruang Belajar, Ruang
Ibadah, Ruang Bermain, Ruang Makan, Fasilitas Kesenian, Fasilitas Olahraga.
Fasilitas yang ada jelas sangat mendukung bagi terselenggaranya kehidupan panti
asuhan yang memberikan rasa aman dan nyaman serta dapat mengembangkan diri
sesuai dengan kemampuan. Panti asuhan diharapkan dapat bekerja profesional
sesuai dengan peraturan yang berlaku.
- Pola Pengasuhan
Kegiatan
rutin yang wajib dilakukan oleh anak-anak adalah beribadah bersama, tadarus,
belajar kitab, bermain, membersihkan kamar dan lingkungan panti asuhan.. Bagi
anak panti asuhan kegiatan rutin tersebut kadangkala memberatkan meskipun
sebagian besar menganggap tidak memberatkan. Hal yang membantu kehidupan
menyenangkan di Panti Asuhan Al Jannah karena adanya hubungan yang terjalin
dengan baik antara pengurus dengan anak. Pengurus yang ada di panti baik dan
ramah serta sering mengajak berkomunikasi untuk membicarakan sesuatu hal.
Pola
Pengasuhan Dengan Sistem Pembujukan di Panti Asuhan Al Jannah yaitu:
Berdiskusi, menasehati dengan kata lembut, menyapa saat bertemu, bermusyawarah
Pihak pengurus Panti Asuhan Al Jannah juga melakukan pola pengasuhan dengan
sistem pembujukan yaitu memberikan nasehat dengan lembut, berdiskusi, menyapa
saat bertemu maupun bermusyawarah. Tujuan dari sistem pembujukan ini untuk
memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak yang tinggal di panti.
D. BEKERJA
ATAU PEKERJAAN TERSEBUT
Beliau Bapak
Bisri pengasuh panti asuhan Al-Jannah melakukan pekerjaan tersebut hanya
semata-mata karena Allah SWT. Beliau ikhlas tidak mengharapkan balasan hanya
Ridho Allah yang di carinya. Karena beliau berfikir evaluativ yaitu berfikir
kritis, menilai baik buruknya, tepat atau tidaknya suatu gagasan. Kita menilai
menurut kriteria tertentu.7
Kemudian
beliau berpandangan bahwa setiap manusia harus mendapatkan penghargaan yang
setinggi-tingginya, bukan karena berbagai prestasi yang mereka capai, melainkan
karena mereka adalah pribadi yang berdaulat dan memiliki hak-hak asasi. Manusia
adalah ciptaan Allah yang bertanggung jawab sepenuhnya kepada-Nya dan tidak
dapat diperdaya oleh manusia lain, yang sama-sama ciptaan Allah. Keyakinaaan
ini berakar dalam suatu pandangan religius tentang hubungan antara Allah dan
manusia serta hubungan manusia dengan manusia. Selanjutnya, cara yang akhirnya
lebih dapat di andalkan dalam menghadapi dan mengatasi kebanyakan persoalan
hidup adalah menggunakan daya berpikir yang diberikan oleh Sang Pencipta, dari
pada mengandalkan kemahiran dan kekuatan istimewa alam gaib. Cara yang akhirnya
lebih produktif ialah mencari sebab musabab timbulnya persoalan,
mempertimbangkan sikap serta tindakan yang dapat diambil, dan mengantisipasi
segala konsekuensi yang mungkin timbul.8
Hubungan
pekerjaan tersebut dengan orang lain adalah saling membantu umat manusia yang
satu dengan yang lainnya. Yang satu mendapatkan kesusahan karena kekurangan
mengenai ekonomi dan pendidikan namun disisi lain seseorang yang mempunyai
kelebihan dapat membantunya. Kemudian dengan adanya panti asuhan berarti para
dermawan dapat memberikan sumbangan baik materi maupun imateri kepada pihak
pengasuh untuk anak-anak panti asuhan agar anak-anak panti asuhan dapat berkehidupan
yang layak sebagaimana mestinya. Dan para dermawan membantu hanya semata-mata
mencari Ridho Allah. Dan donator membantu dengan senang hati dan tanpa pamrih,
beliau senang karena anak-anak yang memang seharusnya dapat dirawat dapat
dirawat dengan layak sebagaimana mestinya, mereka tidak terlantar lagi
dijalanan bahkan mendapatkan keluarga baru yang selalu menyayanginya.
Kelebihan
anak-anak panti asuhan setelah diasuh oleh pihak panti asuhan Al-Jannah adalah
semua anak-anak panti asuhan mendapatkan perlindungan dari pengasuh yang sangat
menyayanginya seperti anak kandungnya sendiri. Mereka juga mendapatkan tempat
tinggal yang layak tanpa adanya biaya sedikitpun. Dan pendidikan formal maupun
non formal yang memadai dapat mereka lakukan dengan baik. Namun, disisi lain
ada juga kekurangan atau hambatan, yang meliputi seperti halnya mengatasi
anak-anak yang bandel atau nakal. Pihak panti asuhan tersebut mengatasi masalah
itu dengan diadakannya komunikasi antar anak yang bermasalah tersebut atau
menggunakan konseling yang berarti interaksi (a) terjadi antara dua orang
individu, masing-masing disebut klien dan konselor (b) terjadi dalam suasana
yang professional (c) dilakukan dan dijaga sebagai alat memudahkan
perubahan-perubahan dalam tingkah laku anak tersebut. Apabila anak itu
mengulangi kembali kesalahannya maka ada macam lain alat pendidikan (selain
penguat) yang berbentuk penarikan suatu positif yang sengaja dilaksanakan agar
pihak lain (individu yang dihukum) menarik kembali atau menghentikan tingkah
laku yang tidak diharapkan. Hukuman dapat dilaksanakan secara verbal atau non
verbal, dan dilaksanakan segera sesudah tingkh laku yang tidak diharapkan
(perbuatan salah) dihentikan.9
Namun
hukuman yang dilakukan itu yang bersifat mendidik untuk anak-anak agar
anak-anak dapat mengetahui dan tidak mengulanginya lagi. Seperti contoh
anak-anak yang tidak melaksanakan sholat berjamaah dihukum membersihkan kamar
mandi atau membersihkan kebun. Karena kebersihan merupakan sunnah Rasulullah.
Atau hukuman tersebut dapat berupa menghafalkan surat-surat pendek dalam
Al-Qur’an, itu dilakukan supaya anak-anak selalu membaca dan mengingat bahwa
Al-Qur’an adalah wahyu Allah.
Kekurangan
lagi yang dihadapi pihak pengasuh adalah terkadang kurangnya dana dari para
donator yang tidak ada. Karena untuk biaya saku anak-anak dan naik angkot pada
saat sekolah anak-anak panti asuhan saja setiap bulan sudah mencapai tujuh juta
lebih, belum lagi masalah makanan anak-anak sehari-hari terkadang masih kurang
dari para donator. Kemudian hambatan lagi adalah masalah tentang perlengkapan
panti asuhan yang tidak memadai, seperti halnya kamar mandi yang kurang. Jumlah
keseluruhan anak-anak panti asuhan tiga puluh namun kamar mandi hanya ada empat
buah. Dan semua itu menyebabkan anak-anak panti asuhan harus mengantri mandi
yang agak lama jika akan berangkat sekolah.
E. PENUTUP
Suasana
panti asuhan yang bersih akan menciptakan anak-anak panti asuhan betah tinggal
di panti asuhan. Karena pengasuh yang selalu mencerminkan kebersihan dalam
panti asuhan. Kemudian sikap kedisiplinan yang selalu diterapkan sehingga
anak-anak panti asuhan selalu melakukan pekerjaan tepat waktu, seperti sholat
berjama’ah selalu tepat waktu, belajar, dan gotong royong membersihkan panti
asuhan.
Saran untuk
panti asuhan Al-Jannah: apabila dana kurang dan fasilitas kurang memadai untuk
kenyamanan anak-anak panti asuhan adalah dengan diadakan donator tetap. Jadi,
setiap bulannya sudah ada dana untuk anak-anak yang cukup dan dapat
digunakannya tepat waktu.
Komentar
kritis tentang kehidupan panti asuhan Al-Jannah: sikap kekeluargaan yang
diterapkan dalam kehidupan panti asuhan yang sangat melekat pada semua yang ada
di panti asuhan termasuk pengasuh. Mereka saling menyayangi, mencintai,
mengasihi, dan tolong menolong. Karena mereka hidup dalam satu keluarga yang
utuh pengganti keluarga mereka sebelumnya yang serba kekurangan dalam hal
ekonomi maupun kasih sayang. Mereka hidup hidup tanpa adanya perselisihan dan
tanpa pertengkaran, jika manusia dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan nalurinya
dengan suatu cara yang baik, di mana sifat-sifat terpuji dan akhlak-akhlak yang
mulia dapat berkembang, ia harus menggunakan akalnya dalam setiap segi
kehidupan. Sebab hanya akal yang mampu membimbing manusia dan bukan naluri.
Akallah yang mencegah naluri dari kemubaziran dan kejumudan. Ia adalah unsur
yang membuat kita dapat membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Kekuatan
akal, yang memiliki tugas penting dalam mengembangkan kepribadian manusia,
adalah kemmpuan untuk melindungi kita dari kesesatan dan memberi kita
ketelitian dalam berbagai urusan.10
Itu yang selau ditanamkan pengasuh panti asuhan pada anak-anak, karena Bapak
Bisri dan istrinya sudah sangat menganggap semua anak panti asuhan adalah anak
kandungnya tanpa terkecuali dan tanpa membeda-bedakan.
BIODATA
SINGKAT PENGASUH PANTI ASUHAN AL-JANNAH
Nama:Drs.KH.Bisri
bin Bisri Sofwan
Tempat,tanggal
lahir:Kendal,6 Mei 1961
Pendidikan
formal: 1.MI Miftahus Shibyan
2.Sekolah
Tehnik
3.SLTA PGA
(Pendidikan Guru Agama)
4.Fakultas
Dakwah IAIN Walisongo Semarang
Pendidikan
non formal: 1.Madrasah Diniyah
2.Pondok
Pesantren Kyai Abdul Qodir
3.Pondok
Pesantren Uswatun Chasanah
4.Pondok
Pesantren Yayasan Arwaniyah Yanbu’ul Qur’an Kudus
Nama
istri:Hj.Jannati, yang kemudian nama panti asuhan tersebut diambil dari nama
istrinya
Alamat:Jl.
Tapak No.53 Rt 04/Rw 03 Kel.Tugu Rejo, Kec.Tugu, Kota Semarang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar